27 Jun 2012

Do'a Bunda

sudah lama ngga buka blogku ini apa yang ingin aku tulis?....hanya terbersit do'a untuk anak2ku
ya Allah anugerahkan kelangsungan hidup anakku,panjangkan usianya,sehatkan badannya,baguskan akhlaqnya,sejahterakan jiwa raganya,alirkan rejekinya melalui tanganku,anugerahkan kepadanya kecerdasan akal dan kebeningan hati.bantulah aku mendidiknya,berbuat baik padanya dari sisi ajaranMu.jadikan anakku mendekatiku dan menyayangiku amin.

10 Apr 2012

Anakku

     Kehidupan tak selamanya manis,suka duka datang silih berganti,serasa baru kemarin aku merasakan kebahagiaan, ketika anak pertamaku diterima di UGM,sebuah perguruan tinggi favorit di negeri ini,banyak yang mendaftar dan ingin diterima di perguruan tinggi ini, beribu siswa datang dari segala penjuru kota,ada yang rela mengeluarkan kocek yang tidak sedikit untuk mengikuti semacam bimbingan tes,untuk bisa diterima di perguruan tinggi ini,kami tak berharap banyak anak2 diterima di perguruan tinggi ini,sekedar mengikuti tes dan merasakan betapa banyaknya persaingan untuk diterima di perguruan tinggi ini,

       Sebulan sejak anak2 mengikuti tes masuk perguruan tinggi ini,kami menunggu tanpa berani berharap banyak,hingga sampai hari pengumuman selepas magrib anakku masuk dengan tergopoh2 dan mata berbinar "bapak ibu aku diterima di UGM" seketika itu kami sujud syukur..Subhanallah tak henti2 aku panjatkan puji syukur kepada Alllah pemilik arsy.do'a dan perjuangan selama bertahun tahun,jerih payah kami rasanya terbalas lunas,bahagiaku tak dapat dilukiskan,anakku yang hanya dengan bekal ijazah paket C mampu mengalahkan teman2nya yang mengantongi ijasah SMA plus bimbingan tes,apakah ini bukan karunia Allah yang tak terhingga?,tak bisa dilukiskan

         Setengah tahun,semester satu,anakku kembali membawa berita bahagia "ibu bapak IP ku 3,7
" Subhanalllah......tapi itu tak berselang lama ketika pagi itu dia mengatakan ingin menikah dan mengenalkan nama seseorang yang akan jadi calon istrinya,...bagai disambar halilintar,secepat itu nak?...proses melamar sampai menikah hanya seminggu,...aku minta ditunda untuk persiapan dan mengabarkan kepada sanak saudara....tapi pernikahan itu tetap tak ditunda dan segera dilangsungkan,antara ikhlas dan tidak rela aku mengikuti saja proses pernikahan itu,yang hanya dihadiri kedua ortu calon istrinnya,kami suami dan adik2nya dan beberapa tetangga sebagai saksi

         Dan sejak itu,hanya kesedihan yang aku rasakan,apa yang bisa menghiburku?...ya Alllah Rob pemilik arsy...anakku masih 21 tahun,masih kuliah baru kemarin, belum juga ada setahun kuliah,bagaimana masa depannya?....apakah dia bahagia?...cobaan atau karuniakah ini?..yang jelas hatiku selalu sedih,,,,,

22 Mar 2012

"Surat Dari Ibu Yang Terkoyak Hatinya"

    Anakku… Ini surat dari ibu yang tersayat hatinya. Linangan air mata bertetesan deras menyertai tersusunnya tulisan ini. Aku lihat engkau lelaki yang gagah lagi matang. Bacalah surat ini. Dan kau boleh merobek-robeknya setelah itu, seperti saat engkau meremukkan kalbuku sebelumnya.
    Sejak dokter mengabari tentang kehamilan, aku berbahagia. Ibu-ibu sangat memahami makna ini dengan baik. Awal kegembiraan dan sekaligus perubahan psikis dan fisik. Sembilan bulan aku mengandungmu. Seluruh aktivitas aku jalani dengan susah payah karena kandunganku. Meski begitu, tidak mengurangi kebahagiaanku. Kesengsaraan yang tiada hentinya, bahkan kematian kulihat didepan mataku saat aku melahirkanmu. Jeritan tangismu meneteskan air mata kegembiraan kami. Berikutnya, aku layaknya pelayan yang tidak pernah istirahat. Kepenatanku demi kesehatanmu. Kegelisahanku demi kebaikanmu. Harapanku hanya ingin melihat senyum sehatmu dan permintaanmu kepada Ibu untuk membuatkan sesuatu. Masa remaja pun engkau masuki. Kejantananmu semakin terlihat, Aku pun berikhtiar untuk mencarikan gadis yang akan mendampingi hidupmu.
     Kemudian tibalah saat engkau menikah. Hatiku sedih atas kepergianmu, namun aku tetap bahagia lantaran engkau menempuh hidup baru. Seiring perjalanan waktu, aku merasa engkau bukan anakku yang dulu. Hak diriku telah terlupakan. Sudah sekian lama aku tidak bersua, meski melalui telepon. Ibu tidak menuntut macam-macam. Sebulan sekali, jadikanlah ibumu ini sebagai persinggahan, meski hanya beberapa menit saja untuk melihat anakku. Ibu sekarang sudah sangat lemah. Punggung sudah membungkuk, gemetar sering melecut tubuh dan berbagai penyakit tak bosan-bosan singgah kepadaku. Ibu semakin susah melakukan gerakan. Anakku… Seandainya ada yang berbuat baik kepadamu, niscaya ibu akan berterima kasih kepadanya. Sementara Ibu telah sekian lama berbuat baik kepada dirimu. Manakah balasan dan terima kasihmu pada Ibu ? Apakah engkau sudah kehabisan rasa kasihmu pada Ibu ? Ibu bertanya-tanya, dosa apa yang menyebabkan dirimu enggan melihat dan mengunjungi Ibu ? Baiklah, anggap Ibu sebagai pembantu, mana upah Ibu selama ini ? Anakku.. Ibu hanya ingin melihatmu saja. Lain tidak. Kapan hatimu memelas dan luluh untuk wanita tua yang sudah lemah ini dan dirundung kerinduan, sekaligus duka dan kesedihan ? Ibu tidak tega untuk mengadukan kondisi ini kepada Dzat yang di atas sana. Ibu juga tidak akan menularkan kepedihan ini kepada orang lain. Sebab, ini akan menyeretmu kepada kedurhakaan. Musibah dan hukuman pun akan menimpamu di dunia ini sebelum di akhirat. Ibu tidak akan sampai hati melakukannya, Anakku… Walaupun bagaimanapun engkau masih buah hatiku, bunga kehidupan dan cahaya diriku… Anakku… Perjalanan tahun akan menumbuhkan uban di kepalamu. Dan balasan berasal dari jenis amalan yang dikerjakan. Nantinya, engkau akan menulis surat kepada keturunanmu dengan linangan air mata seperti yang Ibu alami. Di sisi Allah, kelak akan berhimpun sekian banyak orang-orang yang menggugat. Anakku.. Takutlah engkau kepada Allah karena kedurhakaanmu kepada Ibu. Sekalah air mataku, ringankanlah beban kesedihanku. Terserahlah kepadamu jika engkau ingin merobek-robek surat ini. Ketahuilah, “Barangsiapa beramal shalih maka itu buat dirinya sendiri. Dan orang yang berbuat jelek, maka itu (juga) menjadi tanggungannya sendiri”. Anakku… Ingatlah saat engkau berada di perut ibu. Ingat pula saat persalinan yang sangat menegangkan. Ibu merasa dalam kondisi hidup atau mati. Darah persalinan, itulah nyawa Ibu. Ingatlah saat engkau menyusui. Ingatlah belaian sayag dan kelelahan Ibu saat engkau sakit. Ingatlah ….. Ingatlah…. Karena itu, Allah menegaskan dengan wasiat : “Wahai, Rabbku, sayangilah mereka berdua seperti mereka menyayangiku waktu aku kecil”. 

cerita ini copas aku lupa siapa penulisnya,bila ada yg tau silahkan tulis di komentar ,terimakasih sebelumnya

12 Mar 2012

Dilema

Kutahu ini bukan aku,
Duduk berpangku tangan di rumah
Tergantung sama jatah suami yang harus dikontrol untuk kebutuhan internal keluarga
Yang kutahu adalah rambut-rambut yang mulai memutih karena dimakan usia
Yang kutahu, gurat-gurat tangan yang mulai mengeriput
Yang kutahu adalah penglihatan yang mulai memudar
Yang kutahu sebuah masa tua, butuh dana yang mungkin lebih baik dilebihkan dari sekedar cukup hari ini
Yang kutahu kehidupan orang-orang terkasih itu yang telah memberiku apa adanya AKU hari ini …

Yang kutahu, putraku butuh biaya bukan sedikit untuk masa depannya :D
Kutahu aku tak suka
Sibuk berkutat di dapur dengan dastr belel dan keringat bau bawang
Kutahu,engga aku banget 
Hidup tanpa rencana
Tapi kenapa di sisi lain jadi ada aku banget
Aku banget ya mau punya uang banyak !
Mau punya banyak anak asuh
Aku banget mau sedekah ga tergantung sama jatah bulanan suami yang harus dikontrol untuk kebutuhan internal kami?
Kenapaaaa ada 2 sisi yang berlawanan ?
Jika kubilang kenapa hidup jadi tak adil begini ??
Kenapa sih aku mau menuruti suami menjadi ibu rumah tangga??
Meninggalkan harapan harapan itu?
Kakakku mungkin ga habis pikir
Kok mau hidup pas pasan bahkan kekurangan?
Mau-maunya bukan jadi dirinya sendiri
Pasti bodoh mikirnya ? Iya kan ?
Kan orang aneh banget namanya ??
Kan bodoh ya namanya ?
Kenapa sih dunia tak adil ?
Orang mungkin melihat aku edan atau dipelet
Jadi, apa yang menandakan aku tak waras sekarang ini ?
Jika aku belajar mencintai bisnisku sepenuh hati …
Belajar menyukai yang namanya BERDAGANG
Belajar mencintai yang namanya PENOLAKAN
Belajar menyukai bicara di depan banyak orang
Belajar mencintai yang namanya FOKUS  di depan leptop hari-harinya
Jika hanya dengan belajar mencintainya …
Aku bisa menebus apa yang kumau
Melihat mata berbinar gadis gadis kecilku itu kubelikan ice cream yang mungkin tak seberapa nilainya …
Melihat sebuah kehidupan tumbuh bersemangat kembali dari kegagalannya …
Merasakan ikut leganya hati seseorang dari kejaran hutang
Indah kok.....
Indah banget !
Aku RELA ….
Jika harus belajar mencintai prosesnya untuk keinginanku yang masih banyak tertunda

Tapiii...
Ada satu hal yang mengganjal
Suami tidak mengijinkanku...
Laluuu...haruskah kukubur harapan2 itu?
Tak akan mudah bagiku untuk berhenti begitu saja.

4 Mar 2012

Anakmu bukan Milikmu ( Puisi Khalil Gibran )

Anakmu bukan milikmu
Mereka adalah putra-putri kehidupan yang rindu pada dirinya sendiri
Lewat engkau mereka lahir, namun tidak dari engkau
Mereka ada padamu, tapi bukan hakmu

Berikan mereka kasih sayangmu, bukan bentuk pikiranmu
Sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri
Sepantasnya kau berikan rumah untuk raganya, tetapi tidak untuk jiwanya
Sebab jiwa mereka adalah penghuni masa depan
Yang tidak bisa kau kunjungi, sekalipun dalam mimpi

Engkau boleh menyerupai mereka
Namun jangan engkau suruh mereka menyerupaimu
Sebab kehidupan tak pernah berjalan mundur
dan tidak tenggelam ke masa lampau




Engkaulah busur, dan anak-anakmu sebagai anak panah yang meluncur
Sang Pemanah maha tahu sasaran bidikan keabadian
Dia merentangmu dengan kekuasaanNya
Hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat
Meliuklah dalam sukacita dalam rentangan tangan Sang Pemanah
Sebab Dia mengasihi anak panah yang melesat laksana kilat
Sebagaimana dikasihinya busur panah yang mantap





 Diambil dari kumpulan pusi “The Prophet” by Kahlil Gibran



 

Anak Sholih dan Sholihah adalah karunia Alloh

Keluarga akan merasa sakinah dan mawaddah bila punya anak yang sholih dan sholihah. Sebaliknya, alangkah sedih dan ruginya bila anak durhaka kepada Alloh Subhaanahu wa ta’aala, Rosululloh Shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan durhaka kepada kedua orang tuanya, na’udzubillahi min dzalik. Lalu bagaimanakah upaya kita agar anak menjadi sholih dan sholihah, bahagia dunia dan akhirat?
Sholih dan sholihah adalah takdir Alloh ‘Azza wa Jalla
Di antara hal yang harus kita imani ialah, baik dan buruknya anak sudah ditentukan oleh Alloh ‘Azza wa Jalla sejak dia di rahim ibu. Hanya Alloh-lah yang menjadikan sesuatu dan yang menentukan semua urusan. Perkara ini harus kita yakini agar kita tidak sombong dan membanggakan diri bila berhasil mendidik anak, dan tidak putus asa bila kita sudah berusaha mendidik semaksimal mungkin namun anak belum menjadi baik. Misalnya anak Nabi Nuh ‘Alaihissalam yang durhaka padahal orang tuanya sudah mendidiknya.
Dan Nuh memanggil anaknya sedang anak itu (berada di tempat yang terpencil): “Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu bersama orang-orang yang kafir.” Anaknya menjawab: “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!” (QS. Hud [11]: 42-43)
Dalam ayat ini terdapat teladan agar kita tidak putus asa ketika belum berhasil mendidik anak.
Adapun dalil wajibnya kita mengimani takdir ialah hadits Abdulloh bin Mas’ud Radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh Shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bercerita kepada kami—dan beliau adalah orang yang jujur dan bisa dipercaya:
“Sesungguhnya setiap kalian telah mengalami proses penciptaan dalam perut ibunya selama empat puluh hari (sebagai nuthfah). Kemudian menjadi segumpal darah selama itu juga kemudian menjadi segumpal daging selama itu pula. Selanjutnya Alloh mengutus malaikat untuk meniupkan roh ke dalamnya dan diperintah untuk menulis empat perkara, yaitu: menentukan rezekinya, ajalnya, amalnya serta sengsara atau bahagianya. Demi Dzat yang tiada sembahan selain Dia, sesungguhnya ada salah seorang di antara kalian yang telah melakukan amalan penghuni surga sampai jaraknya dengan surga hanya tinggal sehasta, namun karena sudah didahului takdir, maka ia pun melakukan perbuatan ahli neraka, lalu masuklah ia ke dalam neraka. Dan sungguh ada pula salah seorang di antara kalian yang telah melakukan perbuatan ahli neraka sampai jaraknya dengan neraka hanya tinggal sehasta, namun karena sudah didahului takdir, maka ia pun melakukan perbuatan ahli surga, dan masuklah ia ke dalam surga.” (Shohih Muslim 4781)
Orang tua wajib berikhtiar
Orang yang beriman kepada takdir bukan berarti meninggalkan usaha, karena Alloh ‘Azza wa Jalla memerintah kita agar berilmu lalu beramal. Bukankah Alloh ‘Azza wa Jalla memerintahkan kita untuk mengerjakan sholat? Bukankah kita disuruh menikah agar punya anak? Bukankah kita diperintah untuk menuntut ilmu agar menjadi orang yang berilmu dan beramal? Bukankah anak yang pandai membaca al-Qur’an karena dia belajar? Bukankah Alloh melarang kita mengikuti jalan menuju neraka? Baca surat at-Tahrim ayat no. 6.
Dari Abu Huroiroh Radhiyallaahu ‘anhu bahwa Rosululloh Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya) :
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Lalu kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi seorang Yahudi, Nasrani atau Majusi. Sebagaimana seekor hewan yang melahirkan anak tanpa cacat, apakah kamu merasakan hidungnya ada yang terpotong?” (Shohih Muslim 4803)
Hadits ini menerangkan bahwa kita tidak cukup bergantung pada takdir, namun kita wajib berusaha. Sebagaimana orang yang sakit, dia tidak hanya bergantung pada takdir, tapi pergi ke dokter untuk berobat. Orang tua yang menginginkan anaknya sholih pun hendaknya berusaha pula.
Imam Badruddin berkata: Kedua orang tualah yang mengajarinya beragama Yahudi atau Nasrani dan yang memalingkan dari fitrahnya sehingga dia mengikuti agama orang tuanya. (Umdatul Qori’ Syarah Bukhori 13/39)
Oleh karena itu, kami berwasiat kepada diri kami sendiri dan kepada pembaca seluruhnya, hendaknya kita berhati-hati ketika memutuskan ke mana kita akan menyekolahkan anak, mulai dari taman kanak-kanak sampai sekolah lanjutan. Mengapa? Karena guru, teman bergaul dan pelajaran sekolah akan sangat mempengaruhi pendidikan anak. Bukankah anak yang diajari menyanyi dia pun akan menyanyi, dan yang diajari membaca al-Qur’an dia pun membaca al-Qur’an? Tentunya ini semua bila kita ingin memiliki anak yang sholih dan sholihah.
Dari Abul Abbas Abdulloh bin Abbas Radhiyallahu ‘anhuma beliau berkata: Suatu hari aku berada di belakang Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam lalu beliau bersabda (yang artinya):
“Wahai Anak, aku akan ajarkan kepadamu beberapa patah kata: Jagalah Alloh, niscaya Dia akan senantiasa menjagamu. Bila engkau meminta sesuatu, mintalah kepada Alloh, dan bila engkau meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Alloh. Ketahuilah, jika semua umat manusia bersatu padu untuk memberikan suatu kebaikan kepadamu, niscaya mereka tidak dapat melakukannya kecuali bila sesuatu itu telah ditulis oleh Alloh bagimu. Dan jika semua umat manusia bersatu padu untuk mencelakaimu, niscaya mereka tidak dapat mencelakaimu kecuali bila sesuatu itu telah ditulis oleh Alloh bagimu. Pena telah diangkat dan catatan-catatan (amal) telah mengering.” (HR. at-Tirmidzi, hadits shohih, Silsilah ash-Shohihah 5/381)
Adapun maksud menjaga Alloh ‘Azza wa Jalla adalah dengan cara menjaga hak-Nya, yaitu menjalankan yang wajib dan sunnah dan menjauhi larangan-Nya. Sedangkan yang dimaksud dengan penjagaan Alloh ‘Azza wa Jalla terhadap manusia ada dua bentuk: Alloh menjaga urusan dunianya dengan menyehatkan badannya, melapangkan rezekinya, menjaga anak dan istrinya, dan lain-lain. (Tuhfatul Ahwadzi 6/308)
Ini adalah satu contoh pendidikan anak yang dicontohkan oleh Rosululloh Shallallaahu ‘alaihi wa sallam, yaitu hendaknya ketika anak masih kecil diajari tauhid sehingga ia mengenal Robbnya.
Hubungan antara takdir dengan ikhtiar (usaha)
Mungkin kita bertanya: Bagaimana kita menghubungkan antara takdir dengan usaha? Karena ayat atau hadits tidak mungkin bertentangan satu sama lain, karena keduanya merupakan wahyu Alloh yang diturunkan kepada Rosululloh Shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
Syaikh Ibnu Utsaimin Rahimahullaah berkata: Sebagian ulama berkata: “Takdir adalah rahasia Alloh ‘Azza wa Jalla kepada makhluknya. Kita tidak mungkin mengetahuinya melainkan setelah peristiwa itu terjadi, yang baik atau yang buruk.” (al-Qoulul mufid ala kitabit tauhid 2/396)
Ali bin Abu Tholib Radhiyallaahu ‘anhu berkata: Ketika kami sedang mengiring jenazah di Baqi’ Ghorqod (sebuah tempat pemakaman di Madinah), datanglah Rosululloh Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menghampiri kami. Beliau segera duduk dan kami pun ikut duduk di sekeliling beliau yang ketika itu memegang sebatang tongkat kecil. Beliau menundukkan kepalanya dan mulailah membuat goresan-goresan kecil di tanah dengan tongkatnya itu, kemudian beliau bersabda: “Tidak ada seorang pun dari kamu sekalian atau tidak ada satu jiwa pun yang hidup kecuali telah Alloh tentukan kedudukannya, di surga ataukah di neraka, serta apakah ia akan sengsara ataukah bahagia.”
Lalu seorang lelaki tiba-tiba bertanya: Wahai Rosululloh, kalau begitu apakah tidak sebaiknya kita berserah diri kepada takdir kita dan meninggalkan amal-usaha? Rosululloh Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang telah ditentukan sebagai orang yang bahagia, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang berbahagia. Dan barangsiapa yang telah ditentukan sebagai orang yang sengsara, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang sengsara.” Kemudian beliau melanjutkan sabdanya: “Beramallah! Karena setiap orang akan dipermudah. Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang yang bahagia, maka mereka akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang bahagia. Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang yang sengsara, maka mereka juga akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang sengsara.”
Kemudian beliau membacakan surat al-Lail ayat 5-10 berikut (yang artinya): Adapun orang yang memberikan hartanya di jalan Alloh dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang sukar. (Shohih Muslim 4786)
Inilah hubungan antara takdir dan usaha. Akhirnya, semoga Alloh ‘Azza wa Jalla memberi kemampuan kepada kita semuanya untuk bersungguh-sungguh dan bersabar mendidik anak menuju jalan yang diridhoi-Nya, amin.
*************
[ Oleh: Ust. Aunur Rofiq bin Ghufron ]
Sumber Artikel: http://almawaddah.or.id/

3 Mar 2012

Gelisahku

biarkan aku pergi
mencari hidupku sendiri
aku ingin bahagia
tak mungkin kutemukan
bahagia bersama dirimu
duapuluh satu tahun
mengarungi hidup bersamamu
yang kurasa adalah pedih luka
habis sudah cinta ini
biarkan aku pergi
membawa luka hati ini
mengembara kemanapun langkah kaki ini
ya Allah Rob kekasih yang maha tinggi
mengapa langkahku selalu terhenti
bila kuingat wajah2 itu
wajah anak2ku
nak kalianlah pengobat luka bunda
ooh.pedih hati ini
bagai disayat sembilu
dorongan hati ini begitu kuat
ya Allah....
apa yang harus hamba lakukan
melangkah pergi
atau tetap disini


jogja 4 maret 2011 ( by tiest )



29 Jan 2012

29 Januari 2012

    Pagi ini alarm di HPq berbunyi,ternyata hari ini tanggal 29 januari..oh..,hari ini adalah hari kelahiranku...hm...ada yg spesialkah?...aku teringat ibuku..entah apa yang dirasakan oleh ibuku saat melahirkanku....,sakit yg sangat,....kepanikan...( .aku mengerti karena aku wanita,aku merasakannya bgmn saat2 menjelang persalinn...i miss you mom...aku merindukamu ibu.).. ....dan rasa itu tak bisa dilukiskn dg kata2.saking hebatnya...antara hidup dan mati,karena itu wanit yg melahirkn bila meninggal termasuk syahid.
     Hari ini tnggl 29 januari,aku berharap suami mengucapkan kata2 manis seperti yang dia ucapkn untuk ibunya di hari ulang tahun ibunya,Desember th lalu...oh ternyata tidak...bahkan hari ini diawali dengan hujatannya...hari ini yang harusnya indah buatku,diisi penuh dengan celaan,...dunia yang kejam.....aku ingin sendiri...pergi kemanapun kaki ini melangkah melupakan kepenatan ini...kesuatu tempat yang jauh..,jauh dari suami yang selalu melukai perasaanku
     Tak kusangka bnyk temen2 yang atensi kepadaku,walau skdar mengucapkn met ultah dan mendo'akanku....aku butuh sendiri untuk sejenak merenung,apa yng sudah aku lakukan selama hidupku ini.........ya Allah Rob kekasih yg maha tinggi...umurku berkurang.

26 Des 2011

Wanita Sholehah

   Shalihah atau tidaknya seorang wanita bergantung ketaatannya pada aturan-aturan Allah. Aturan-aturan tersebut berlaku universal, bukan saja bagi wanita yang sudah menikah, tapi juga bagi remaja putri. Mulialah wanita shalihah. Di dunia, ia akan menjadi cahaya bagi keluarganya dan berperan melahirkan generasi dambaan.

Jika ia wafat, Allah akan menjadikannya bidadari di surga. Kemuliaan wanita shalihah digambarkan Rasulullah Saw. dalam sabdanya, “Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah”. (HR. Muslim). Dalam Al-Quran surat An-Nur: 30-31, Allah Swt. memberikan gambaran wanita shalihah sebagai wanita yang senantiasa mampu menjaga pandangannya. Ia selalu taat kepada Allah dan Rasul Nya. Make up- nya adalah basuhan air wudhu. Lipstiknya adalah dzikir kepada Allah. Celak matanya adalah memperbanyak bacaan Al-Quran. Wanita shalihah sangat memperhatikan kualitas kata-katanya.
Tidak ada dalam sejarahnya seorang wanita shalihah centil, suka jingkrak-jingkrak, dan menjerit-jerit saat mendapatkan kesenangan. Ia akan sangat menjaga setiap tutur katanya agar bernilai bagaikan untaian intan yang penuh makna dan bermutu tinggi. Dia sadar betul bahwa kemuliaannya bersumber dari kemampuannya menjaga diri (iffah). Wanita shalihah itu murah senyum. Baginya, senyum adalah shadaqah. Namun, senyumnya tetap proporsional.
Tidak setiap laki-laki yang dijumpainya diberikan senyuman manis. Senyumnya adalah senyum ibadah yang ikhlas dan tidak menimbulkan fitnah bagi orang lain. Wanita shalihah juga pintar dalam bergaul. Dengan pergaulan itu, ilmunya akan terus bertambah. Ia akan selalu mengambil hikmah dari orang-orang yang ia temui. Kedekatannya kepada Allah semakin baik dan akan berbuah kebaikan bagi dirinya maupun orang lain. Ia juga selalu menjaga akhlaknya. Salah satu ciri bahwa imannya kuat adalah kemampuannya memelihara rasa malu. Dengan adanya rasa malu, segala tutur kata dan tindak tanduknya selalu terkontrol. Ia tidak akan berbuat sesuatu yang menyimpang dari bimbingan Al-Quran dan Sunnah.
Ia sadar bahwa semakin kurang iman seseorang, makin kurang rasa malunya. Semakin kurang rasa malunya, makin buruk kualitas akhlaknya. Pada prinsipnya, wanita shalihah adalah wanita yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Rambu-rambu kemuliaannya bukan dari aneka aksesoris yang ia gunakan. Justru ia selalu menjaga kecantikan dirinya agar tidak menjadi fitnah bagi orang lain. Kecantikan satu saat bisa jadi anugerah yang bernilai. Tapi jika tidak hati-hati, kecantikan bisa jadi sumber masalah yang akan menyulitkan pemiliknya sendiri. Saat mendapat keterbatasan fisik pada dirinya, wanita shalihah tidak akan pernah merasa kecewa dan sakit hati. Ia yakin bahwa kekecewaan adalah bagian dari sikap kufur nikmat. Dia tidak akan merasa minder dengan keterbatasannya. Pribadinya begitu indah sehingga make up apa pun yang dipakainya akan memancarkan cahaya kemuliaan. Bahkan, kalaupun ia “polos” tanpa make up sedikit pun, kecantikan jiwanya akan tetap terpancar dan menyejukkan hati orang-orang di sekitarnya. Jika ingin menjadi wanita shalihah, maka belajarlah dari lingkungan sekitar dan orang-orang yang kita temui. Ambil ilmunya dari mereka.
Bahkan kita bisa mencontoh istri-istri Rasulullah Saw. seperti Aisyah. Ia terkenal dengan kekuatan pikirannya. Seorang istri seperti beliau bisa dijadikan gudang ilmu bagi suami dan anak-anak. Contoh pula Siti Khadijah, figur istri shalihah penentram batin, pendukung setia, dan penguat semangat suami dalam berjuang di jalan Allah Swt. Beliau berkorban harta, kedudukan, dan dirinya demi membela perjuangan Rasulullah. Begitu kuatnya kesan keshalihahan Khadijah, hingga nama beliau banyak disebut-sebut oleh Rasulullah walau Khadijah sendiri sudah meninggal. Bisa jadi wanita shalihah muncul dari sebab keturunan. Seorang pelajar yang baik akhlak dan tutur katanya, bisa jadi gambaran seorang ibu yang mendidiknya menjadi manusia berakhlak.
Sulit membayangkan, seorang wanita shalihah ujug-ujug muncul tanpa didahului sebuah proses. Di sini, faktor keturunan memainkan peran. Begitu pun dengan pola pendidikan, lingkungan, keteladanan, dan lain-lain. Apa yang tampak, bisa menjadi gambaran bagi sesuatu yang tersembunyi. Banyak wanita bisa sukses. Namun tidak semua bisa shalihah. Shalihah atau tidaknya seorang wanita bergantung ketaatannya pada aturan-aturan Allah.
Aturan-aturan tersebut berlaku universal, bukan saja bagi wanita yang sudah menikah, tapi juga bagi remaja putri. Tidak akan rugi jika seorang remaja putri menjaga sikapnya saat mereka berinteraksi dengan lawan jenis yang bukan mahramnya. Bertemanlah dengan orang-orang yang akan menambah kualitas ilmu, amal, dan ibadah kita. Ada sebuah ungkapan mengatakan, “Jika kita ingin mengenal pribadi seseorang maka lihatlah teman-teman di sekelilingnya.” Peran wanita shalihah sangat besar dalam keluarga, bahkan negara.
Kita pernah mendengar bahwa di belakang seorang pemimpin yang sukses ada seorang wanita yang sangat hebat. Jika wanita shalihah ada di belakang para lelaki di dunia ini, maka berapa banyak kesuksesan yang akan diraih. Selama ini, wanita hanya ditempatkan sebagai pelengkap saja, yaitu hanya mendukung dari belakang, tanpa peran tertentu yang serius. Wanita adalah tiang Negara. Bayangkanlah, jika tiang penopang bangunan itu rapuh, maka sudah pasti bangunannya akan roboh dan rata dengan tanah.
Tidak akan ada lagi yang tersisa kecuali puing-puing yang nilainya tidak seberapa. Kita tinggal memilih, apakah akan menjadi tiang yang kuat atau tiang yang rapuh? Jika ingin menjadi tiang yang kuat, kaum wanita harus terus berusaha menjadi wanita shalihah dengan mencontoh pribadi istri-istri Rasulullah. Dengan terus berusaha menjaga kehormatan diri dan keluarga serta memelihara farji-nya, maka pesona wanita shalihah akan melekat pada diri kaum wanita kita. (di ambil dari sebuah situs)

11 Nov 2011

PERUMPAMAAN HIDUP DI DUNIA ♥♥

     Adalah seorang pemuda yang tengah berjalan- jalan ditepi hutan untuk mencari udara segar, ketika dia tengah berjalan, tiba -tiba terdengarlah Bunyi auman suara harimau…
Auuuummmm… .!!!!!
Seekor harimau yang sedang lapar Dan mencari mangsa untuk mengisi perutnya Dan tiba-tiba Sudah berada dihadapan pemuda .
pemuda tadi karena takut, diapun berlari semampu dia bisa, Harimau yang sedang lapar tentunya tidak Begitu saja melepas mangsa empuk di depan matanya, harimau itupun mengejar pemuda tadi.
Ditengah kepanikkannya, pemuda tadi masih sempat
Berdoa, agar diselamatkan dari terkaman harimau,…rupanya doanya dikabulkan, dalam pelariannya dia melihat sebuah sumur tua,..terlintas Dibenaknya untuk masuk kedalam sumur itu,..karena harimau pasti tidak akan mengejarnya ikut masuk kesumur
tersebut.
    Beruntungnya lagi ternyata sumur tersebut ditengahnya Ada tali menjulur ke bawah, jadi pemuda tadi tidak harus melompat yang mungkin saja bisa membuat kakinya patah
karena dalamnya sumur tersebut.
    Tapi ternyata tali itu pendek Dan takkan sanggup membantu dia sampai kedasar sumur, hingga akhirnya dia bergelayutditengah- tengah sumur, ketika tengah bergelayut
Dia menengadahkan mukanya keatas ternyata harimau tadi masih menunggunya dibibir sumur, Dan ketika dia menunduk kebawah, terdengar suara kecipak air,..setelah diamati ternyata Ada 2 ekor buaya yang ganas yang berusaha menggapai badannya,.
     Ya Allah bagaimana ini, diatas aku ditunggu harimau, dibawah buaya siap menerkamku, ketika dia tengah berpikir caranya keluar, tiba-tiba dari Pinggir sumur yang Ada lobangnya keluarlah seekor tikus putih
..ciiit…ciiit. .. ….ciit…yang naik meniti tali pemuda tadi Dan mulAI menggerogoti tali pemuda tadi,..belum hilang keterkejutannya dari lobang Satunya lagi muncul seekor tikus hitam yang melakukan hal sama seperti tikus putih menggerogoti tali yang dipakai pemuda tuk bergelantungan.
      Waduh …jika tali ini putus, .habislah riwayatku dimakan
buaya..!!! Cemas dia berpikir,… jika aku naik keatas ….sudah pasti harimau menerkamku,. ..jika menunggu disini…lama- lama tali ini akan putus Dan Buaya dibawah siap menyongsongku. .. Saat itulah dia mendengar dengungan rombongan lebah yang sedang mengangkut madu untuk dibawa kesarang Mereka,..
dia mendongakkan wajahnya keatas..
      Dan tiba-tiba jatuhlah setetes madu dari lebah itu langsung tertelan ke mulUT pemuda tadi. Spontan pemuda tadi berkata…
Subhanall ah ..Alangkah manisnya madu Ini,..baru sekali ini aku merasakan
madu semanis Dan selezat ini…!!! Dia lupa akan ancaman buaya Dan harimau tadi.
      Tahukah kamu, inti dari cerita diatas…??Huhft
Pemuda tadi adalah Kita semua, harimau yang mengejar adalah maut Kita, ajal memang selalu mengejar. Kita. Jadi ingatlah akan mati. Dua ekor buaya adalah malaikat munkar Dan nakir yang menunggu Kita di alam kubur Kita nantinya .
Tali tempat pemuda bergelayut adalah panjang umur Kita,..jika talinya panjang maka pendeklah umur Kita,
jika talinya pendek maka panjanglah Umur Kita.
     Tikus putih Dan tikus hitam adalah dunia Kita siang Dan juga malam yang senantiasa mengikis umur Kita.
Diibaratkan di cerita tadi tikus yang menggerogoti tali pemuda.Madu setetes adalah nikmat dunia yang hanya sebentar.
Bayangkan madu setetes tadi masuk ke mulUT pemuda,…sampai dia lupa akan ancaman harimau Dan buaya,.. begitulah Kita, ketika Kita menerima nikmat sedikit, Kita lupa kepada Allah.
Ketika susah baru ingat kepada Allah..
Astaghfirullah..

By:Ahli Kitab.

Wallahu'alam bishawab..''
Barang siapa MENUNJUKKAN pada KEBAIKAN ,
maka baginya PAHALA seperti orang yang MELAKUKANnya ."
(HR.Muslim)